Penghitungan cepat atas hasil pemilu Presiden dan Wakil Presiden RI periode 2009-2014 berlangsung sangat cepat, seakan-akan berlomba antar penyelenggara penghitungan cepat untuk menghadirkan hasil akhir perhitungan. Berikut adalah data quickcount terbaru penghitungan cepat yang dikumpulkan oleh LSI, LP3ES, dan Cirus.
Debat Capres: Membangun Demokrasi Lebih Konstruktif
Jumat, Juli 03, 2009
Jusuf Kalla (JK) selaku Calon Presiden 2009 dan Wapres Incumbent dalam acara debat capres terlihat secara jelas menyerang para kandidat capres lainnya. Bagi mereka yang jeli, hal demikian dapat menjadikan sebuah blunder bagi JK sendiri karena telah menyampaikan hal yang non substansial dan menyimpang dari materi debat itu sendiri. Sementara di satu sisi, Capres incumbent SBY mampu tampil prima dengan menjawab semua pertanyaan yang disampaikan moderator secara rinci. Capres SBY, mampu memaparkan dengan baik dan rinci mengenai data kependudukan sampai dengan pemahaman mengenai konflik Timor Timur sampai harus berpisah dengan Republik Indonesia. Berbeda dengan JK yang tidak mampu memahami keputusan Timor Timur untuk berpisah dengan Indonesia serta Mega yang dinilai terlalu filosofis dalam sebuah proses demokrasi tanpa menjelaskan lebih lanjut demokrasi seperti apa yang telah dia paparkan dan pahami. Debat Capres putaran terakhir tersebut mampu tampil lebih hidup dengan upaya moderator dalam menggiring dan mengarahkan setiap pembicaraan para peserta ke arah pedebatan yang lebih terbuka. Acungan jempol terhadap upaya siap kalah dan siap menang banyak dilontarkan berbagai pihak pada ketiga kontestan, namun masih ada pula kekecewaan terhadap sikap Megawati yang masih juga tidak mau memberikan ucapan selamat kepada siapapun pemenang dalam Pilpres mendatang; sepertinya Mega masih enggan untuk menerima salah satu bentuk demokrasi....
Tim Kampanye JK-Wiranto Wajibkan Rizal Mallarangeng Minta Maaf!
Kamis, Juni 25, 2009
Surat Terbuka Indra J. Piliang yang dibagikan pada saya hari Kamis, 25 Juni 2009 jam 00:22
Press Release: Rizal Mallarangeng Wajib Minta Maaf!
Berdasarkan laporan www.detik.com, tanggal 24 Juni 2009, Saudara Rizal Mallarengeng sebagai Tim Kampanye Nasional Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Boediono telah melontarkan pernyataan sebagai berikut:
"Kami menuntut JK untuk menjelaskan peristiwa ini apakah sepengetahuan beliau untuk menyebarkan fitnah dan black campaign."
"Jelas ada buktinya ini dengan sengaja dibagikan ke dalam ruangan yang ada wapres (JK) yang saat itu sedang berkampanye sebagai calon presiden.”
"Sebagai penanggung jawab tertinggi kampanye, sudah seyogyanya JK minta maaf pada Ibu Boediono."
Pernyataan Rizal Mallarangeng itu muncul sehubungan dengan adanya fotokopi salah satu tabloid yang berisikan tulisan 'Habib Hussein al Habsy, apa PKS tidak tahu istri Boediono Katolik' yang beredar ketika Pak Jusuf Kalla kampanye di Medan. Fotokopi selebaran itu tertangkap dalam kamera TV One.
Penyampaian pernyataan itu jelas-jelas menunjukkan absennya sikap check and recheck dari Saudara Rizal Mallarangeng. Rizal telah mendahului jalur-jalur hukum formal yang layak digunakan, seperti kepolisian dan Badan Pengawas Pemilu. Untuk membuktikan sebuah tuduhan, Rizal paling tidak harus mempersilakan aparat hukum untuk melakukan penyelidikan dan penyidikan. Pengabaian prosedur formal itu menunjukkan sekali lagi betapa Tim Kampanye Nasional SBY-Boediono berisikan orang-orang yang kualitasnya sekadar hanya pelontar peluru-peluru hampa.
Atas dasar itu, Tim Kampanye Nasional Jusuf Kalla-Wiranto mengajukan hal-hal sebagai berikut:
Pertama, tidak benar Tim Kampanye Nasional JK-Wiranto telah menyebarkan fotokopi berita tabloid itu dalam kampanye resmi yang dihadiri oleh Capres Jusuf Kalla. Karena Tim Kampanye Nasional JK-Wiranto saja tidak mengetahui, apatah lagi Capres Jusuf Kalla yang dikenal selama ini sebagai pribadi yang lebih sering difitnah dalam berbagai tulisan para pendukung SBY-Boediono. Paling tidak, Wimar Witoelar yang merupakan adik kandung Menteri Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar telah merilis kolom di sebuah harian nasional. Begitu juga sejumlah nama lain.
Kedua, Tim Kampanye Nasional JK-Wiranto tidak dalam kapasitas memeriksa Koran atau tabloid apa yang dibawa oleh peserta kampanye. Begitupula, Tim Kampanye Nasional JK-Wiranto menyadari betapa pers memegang peranan penting dalam demokrasi. Karena itu, Tim Kampanye Nasional SBY-Boediono selayaknya mengajukan keberatan kepada Habib Hussein al Habsy dan tabloid yang memuat pernyataannya, dalam wujud hak jawab, sebagaimana dijanjikan oleh SBY-Boediono dalam setiap kampanyenya tentang pers.
Ketiga, Tim Kampanye Nasional JK-Wiranto meminta saudara Rizal Mallarangeng mencabut pernyataannya yang kurang sopan itu, baik secara lisan atau tulisan. Selain itu, saudara Rizal wajib menyatakan permohonan maaf secara lisan dan tulisan kepada Bpk Jusuf Kalla dan Tim Kampanye Nasional JK-Wiranto. Pernyataan Rizal jelas out of context, out of control dan out of the rule.
Keempat, pernyataan Rizal jelas bermaksud merusak dan mengadu-domba hubungan baik yang selama ini terjalin antara Pak Jusuf Kalla dengan Pak Boediono dan istrinya. Apalagi, sebagai penganut kebebasan memeluk agama, sebagaimana tercantum dalam UUD 1945 sebagai jati diri bangsa, maka prinsip Pak Jusuf Kalla adalah “Bagimu agamamu, bagiku agamaku.” Pak Jusuf Kalla dan seluruh anggota Tim Kampanye Nasional JK-Wiranto jelas tidak akan mencampuri urusan agama orang lain.
Apabila Saudara Rizal Mallarangeng tidak melakukan hal-hal sebagaimana di atas, maka Tim Kampanye Nasional JK-Wiranto dengan berat hati akan menempuh jalur hukum yang tersedia untuk menyelesaikan masalah ini, baik terkait dengan sistem hukum pilpres, maupun lewat sistem pengadilan biasa. Selain itu, kami menghimbau agar Tim Kampanye Nasional SBY-Boediono, termasuk Capres SBY dan Cawapres Boediono, untuk tidak lagi “memaksa” Tim Kampanye Nasional JK-Wiranto untuk memasuki cara-cara kampanye yang kurang sopan dan kurang bermartabat. Republik Indonesia yang indah ini lebih memerlukan kampanye yang berkualitas, ketimbang hanya terjebak dengan isu-isu murahan seperti yang banyak disampaikan oleh Tim Kampanye Nasional kandidat lain.
Demikianlah keterangan pers ini kami sampaikan, agar diketahui oleh masyarakat Indonesia.
Untuk Indonesia yang Lebih Baik.
Jakarta, 25 Juni 2009 Hormat Kami,
Indra Jaya Piliang, SS, M.Si Juru Bicara dan Wakil Koordinator Pencitraan Tim Kampanye Nasional Calon Presiden Jusuf Kalla dan Calon Wakil Presiden Wiranto
Selama pelaksanaan pemilu, website ini akan menampilkan penghitungan cepat dari 2 lembaga survei terkemuka; serta penghitungan suara bertahap dari KPU. Perolehan suara hanya akan ditampilkan bagi 5 partai yang menduduki posisi teratas pada waktu update data dilakukan. Silahkan anda mengikuti penghitungan cepat / quick count perolehan suara pemilu 2009 di bagian headline pada halaman website ini. Terima kasih.
Lagi ada di pedalaman. Pengennya cari warnet untuk sekedar cek network. Eh, ga taunya nemu warnet yang parah banget. Udah kompie yang ada leletnya minta ampun bak kompie jadul, dah gitu koneksinya minta ampun. Kalah cepet ama siput yang lagi ngayuh becak. Heran, warnet kayak gini kok ya bisa-bisanya full tadi pas aku datang. Pesen minum, adanya cuman kopi panas. Begitu dicicipi, sekali lagi ampun deh; pahitnya bukan main. Sampai kepikiran, ini sebenarnya bubuk kopi atau bubuk arang yang dikasih air panas sih???? Daripada sewot cuman karena loading website yang ga ada selesainya, mending pulang tidur aja.......
Sintong Panjaitan; Di Balik Coretan "Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando"
Minggu, Maret 15, 2009
Kembali suasana politik Indonesia memanas, menyusul manuver seorang purnawirawan TNI AD dalam menjejaki langkah untuk menjadi seorang pujangga. Adalah Sintong Panjaitan; purnawirawan kelahiran Tarutung, Propinsi Sumatera Utara, 4 September 1941 yang telah melemparkan bola panas di tengah pergulatan politik para Capres dalam meraih simpati. Banyak pihak menduga langkah Sintong merupakan manuver awal untuk menjegal Prabowo dan Wiranto dalam meraih kursi RI 1; berbeda dengan SBY dan Gus Dur yang tetap menganggap biasa manuver Sintong tersebut. Mantan Danjen Kopassus Tahun 1985 yang merupakan jebolan AMN Magelang (1963) ini memulai menorehkan prestasi di bidang militer selepas 2 tahun lulus dari AMN dengan pangkat Letnan Dua dan membawa pasukan RPKAD berhasil menguasai RRI Jakarta yang dikuasai kelompok G30S/PKI pada tanggal 1 Oktober 1965. Di kancah Internasional, nama Sintong Panjaitan juga sempat membuat mata dunia terbuka akan keberhasilannya menggagalkan upaya pembajakan pesawat DC-9 Garuda di Woyla, Thailand, Maret 1981. Kala itu, Sintong yang berpangkat letnan kolonel, membawa sepasukan Komando Pasukan Sandhi Yudha (Kopassandha) ke bandar udara Don Muang, Bangkok, dan berhasil membebaskan sandera serta melumpuhkan pembajaknya sekalian. Perjalanan karir purnawirawan bintang tiga ini sarat diwarnai dengan pengalaman tempur di garis depan. Gerombolan PGRS di Kalimantan Barat, OPM di Irian Jaya, dan penyergapan Kahar Muzakkar di Sulawesi adalah contoh pertempuran yang dimenanginya. Pertempuran yang berakhir gemilang, ternyata tak selalu membawa keberuntungan dalam karirnya. Sampai pada akhirnya lembaran hitam menghampiri dirinya dari karir militer terkait kasus 12 November Dilli. Temuan tim investigasi asing dan pengumuman Pemerintah terhadap pengusutan kasus tersebut, memojokkan Sintong dalam situasi sulit yang memaksa dia harus mempertanggungjawabkan tuduhan atas pembantaian 270 orang di Dilli dalam sebuah prosesi pemakaman seorang demontsran di Dilli. Orde Baru identik dengan pemikiran Soeharto; demikian juga dengan langkah dan kebijakan Pemerintah. Walaupun Sintong diputus bersalah dan harus mengakhiri karir militernya, di belakang layar terdengar suara setengah membisik yang menyuarakan bahwa keputusan tersebut merupakan suatu bagian konspirasi untuk membunuh karir militer Sintong. Apalagi Sintong dikenal sebagai militer yang dekat dengan LB Moerdani pada tahun 80-an; di mana LB Moerdani pada akhir masa kepemimpinannya sempat berselisih pendapat dengan Soeharto. Kini, setelah vakum dari dunia militer dan politik pasca menjabat sebagai penasehat militer senior era kepemimpinan Presiden BJ Habibie; nama Sintong seolah tenggelam dalam kehidupan pribadinya sehari-hari di daerah Jatiasih, Pondok Gede. Kembali pada Coretan Sintong Panjaitan; tulisan ini seakan membuka sebuah tabir pengetahuan baru bagi mereka yang belum mengetahui sejarah militer Indonesia, namun bisa jadi merupakan suatu tamparan bagi mereka yang dulu pernah terlibat dalam sebuah konspirasi militer tingkat tinggi di Indonesia. Apalagi nama Sintong dulu pernah masuk dalam daftar hitam perwira yang harus disingkirkan; sampai akhirnya harus berhasil dengan memuat kasus 12 November Dilli. Kini, benar tidaknya apa yang telah diceriatakan oleh seorang perwira jujur dalam pandangan Ginandjar Kartasasmita hanyalah sejarah yang mengetahuinya. Terlepas dari intrik politik menjelang pemilu 2009, ataupun upaya balas dendam pribadi atas konspirasi yang pernah menjatuhkan dirinya; hanyalah Sintong yang tahu. Sebagaimana biasanya sebuah cerita misteri, kita hanyalah pembaca yang diajak menebak terlebih dahulu mengenai ending sebuah cerita diantara gambaran yang semuanya serba abu-abu. Namun, bukankah pengalaman sejarah yang dituliskan Sintong tersebut bukan merupakan sebuah cerita misteri; apalagi cerita fiksi???
Windows XP Service Pack 3, Checked Build (342.9 MB) File .exe untuk mengupdate ke Windows XP SP3 yang ditujukan untuk IT professionals dan developer guna melakukan debug dan pengembangan software untuk Windows XP SP3.
Pengguna Microsoft Dynamics Retail Management System (RMS) disarankan untuk menginstall a hotfix for a Microsoft Dynamics RMS sebelum menginstall Windows XP SP3.
Menghadap ke jalan Gatot Subroto, dari lantai 4 sebuah bangunan di Jakarta, aku menerima telpon dari seorang kawan lama. Sahabat yang dulu sering menggelar pertemuan denganku, dan berbicara tentang hal-hal ringan menyangkut masalah sosial di masyarakat. Saat aku ingat pertemuan terakhir sekitar 6 tahun lalu, seperti saat ini, walau kami berada di satu kota yang bernama Jakarta, kami tetap saja tidak pernah dapat meluangkan sekedar waktu untuk dapat bertemu. Demikian juga dengan waktu itu, dalam telepon kami masih tetap menyinggung kapan ada sedikit waktu bagi kami berdua untuk bertemu, bukan hanya sekedar berkomunikasi melalui telepon. Dalam setiap komunikasi, terlalu sering kami bicarakan keinginan untuk dapat menaklukkan waktu di Jakarta, untuk dapat bertemu di sela kesibukan, bahkan untuk tetap berkomunikasi dalam waktu luang kegiatan. Kita tidak ingin kepadatan agenda, sebagaimana kemacetan jalan raya di jakarta, membuat kami harus menyerah untuk berdiri berhadapan dan saling memandang ada tidaknya perubahan dalam setiap lekuk wajah sebagai akibat perpisahan yang lama. Satu keinginan terhadap sahabat lama, saya tidak menginginkan sebuah kesibukan atau aktivitas tinggi akhirnya harus menaklukkan daya ingatku terhadap keberadaan sebuah sahabat. Karena, saya berpikir dengan keberadaan dia persahabatan ini atau mungkin persaudaraan nanti menjadi ada. Masih dengan gaya bicaranya yang ceplas-ceplos, di telpon, sahabat lama ini kembali mengingatkan padaku tentang arti penting orang-orang yang ada di sekitar kita. Tak pernah peduli bagaimana anggapan mereka pada kita, tak peduli bagaimana perasaan mereka pada kita, termasuk tak peduli bagaimana sikap acuh mereka pada kita; yang jelas, kita harus selalu menanamkan pemahaman dalam diri, bahwa kita masih butuh mereka. Saat ini, kita dengan segenap ego yang kita miliki, mungkin masih mampu bertahan untuk menutup mata dan menyumbat telinga, terhadap keberadaan mereka di sekitar kita. Namun mampukah kita jika suatu ketika diri ini sudah tak mampu menggerakkan kelopak mata atau bahkan mengangkat tangan untuk menyumbat telinga kita akan tetap melakukan aksi buta dan tuli? Ibarat bermain bola sepak; bukan lapangan, bukan gawang, bukan pula bola yang membutuhkan kehadiran kita sebagai pemain di atasnya. Tanpa kehadiran kita, lapangan tetaplah lapangan; gawang tetaplah gawang, dan bola tetaplah bola! Namun, tanpa adanya mereka, akankah kita akan disebut sebagai pemain bola, jika kita berada bukan di sebuah lapangan dengan gawang dan bola di dalamnya???? Mungkin, ego dan sikap keras kepala manusia membuat dirinya merasa lebih jago dan hebat dari segala yang ada. Namun, tanpa mereka nyatanya manusia hanyalah seorang manusia. Seperti perumpamaan di atas, seorang manusia hanyalah manusia saja; tanpa ada arti apa-apa.....
Name: Fajar Ari Setiawan Home: Bojonegoro, Yogya, Jakarta, Jatim - DIY - DKI Jaya, Indonesia About Me: Bagi mereka yang merasa berjasa, aku hanyalah sampah. Bagi mereka yang merasa intelek, aku hanyalah pembual. Bagi mereka yang merasa suci, aku hanyalah kotoran. Bagi mereka yang merasa terhormat, aku tak lebihnya seperti orang jalanan. Bagi mereka yang merasa pernah mengenalku, aku sepertinya sudah tak ada. Namun diantara semua anggapan yang pernah ada, semua tentang aku ada karena anggapan-anggapan yang pernah ada...... Data Lengkap